TKI Asal Indonesia Dipancung Di Arab Saudi! Zaini Dipaksa Mengaku Membunuh

tki asal indonesia dipancung

Satu lagi berita viral TKI asal Indonesia dipancung di Arab Saudi bernama Zaini Misrin menambah daftar kelam nasib pahlawan devisa negara kita. Zaini TKI asal Bangkalan, Madura meninggalkan Tanah Air pada 1992 dan memilih bekerja sebagai sopir pribadi di negara Arab Saudi dengan tujuan untuk membahagiakan keluarganya. Sembilan tahun kemudian, 2001, ia pulang ke kampung halaman dan membuat kios kecil yang melekat di sisi kanan rumahnya.

Diketahui Zaini memiliki 2 putra yang bernama Saiful dan Mustofa. Putra sulungnya, Saiful Thoriq mengatakan sang ayah memutuskan berangkat kembali ke Arab Saudi karena membutuhkan modal usaha toko yang dibangunnya.”Bapak memang ingin berhenti menjadi TKI dan ingin membuka usaha toko di rumah. Tapi terpaksa kembali berangkat karena butuh modal,” tutur Thoriq. Zaini Misrin merupakan warga Desa Kebun, Kecamatan Kamal, Bangkalan, Madura. Ia berangkat ke Arab Saudi di tahun 2003.

Petaka menimpa Zaini pada 13 Juli 2004. Ia ditangkap polisi Arab Saudi. Tuduhannya tidak main-main, membunuh majikannya, Abdullah bin Umar. Zaini bersikeras bahwa dirinya tak membunuh majikannya. Saat kejadian, juga ada orang lain di lokasi. Setelah ditangkap dan menjalani pemeriksaan, Zaini diberi izin untuk meminta bantuan penerjemah, karena belum terlalu mahir berbahasa Arab. Namun oleh si penerjemah tersebut, ia justru dipaksa agar mengaku. Akibatnya, Zaini TKI asal Indonesia dipancung sebagai hukumannya. Eksekusi mati / dipancung terhadap Zaini sudah dilakukan diperkirakan dilakukan pada hari Minggu (18/3/2018) sekitar pukul 11.30 waktu Mekah atau 15.30 WIB waktu Jakarta.

Sejak ditahan pada tahun 2005, keluarga Zaini sudah menjenguknya tiga kali. Saiful Toriq anak pertama Muhammad Zaini Misrin Arsyad alias Slamet, menyimpan banyak cerita setelah bertemu ayahnya beberapa kali. Dia yakin ayahnya tak membunuh majikan. “Abah dicambuk kepolisian sana agar mengaku dan Abah keceplosan mengaku membunuh,” kata Saiful Toriq. Pengakuan ini didapatkan Saiful saat pertama kali mengunjungi ayahnya di tahanan Saudi pada 2013. “Saat itu diberitahu oleh KJRI Jeddah kalau bukan Abah saya pelakunya tetapi anak tiri majikan Abah. Pengakuan abah itu disampaikan ke KJRI dan sudah ada upaya penangguhan tapi nyatanya saat ini tidak ada keadilan,” ungkapnya. Saat kejadian, lanjut Saiful, ayahnya sedang bersama seorang wanita bersama Sumiati yang dinikahi siri ayahnya di Arab Saudi. “Abah saya sedang bersama Sumiati, warga Sampang, yang dinikahi siri di Arab. Tetapi sampai sekarang tidak tahu keberadaannya,” tambahnya.

Reaksi Pemerintah Mengenai Kasus Zaini TKI Asal Indonesia Dipancung

Muhammad Zaini Misrin, warga Desa Kebun, Kecamatan Kamal, Kabupaten Bangkalan, Jawa Timur dieksekusi mati / dipancung oleh pemerintah Arab Saudi, Minggu (18/3/2018) siang waktu setempat. Pemerintah Indonesia sangat terkejut menerima informasi mengenai pelaksanaan hukuman mati terhadap saudara kita, Zaini Misrin Arsyad, di Mekah.

tki asal indonesia dipancung

“Kami terkejut, menyesalkan dan berduka”, kata Menteri Ketenagakerjaan M Hanif Dhakiri di Jakarta, Selasa (20/3/18). Menurut Hanif, Pemerintah telah melakukan langkah-langkah pembelaan luar biasa (extraordinary) untuk membebaskan Zaini Misrin dari hukuman mati dengan cara dipancung. Baik pendampingan hukum, langkah diplomatik maupun non-diplomatik, semuanya dilakukan secara maksimal.  Presiden Susilo Bambang Yudoyono dan Presiden Joko Widodo tiga kali berkirim surat resmi ke Raja Saudi. Bahkan Presiden Joko Widodo telah tiga kali bertemu Raja Saudi untuk mengupayakan pembebasan Zaini Misrin.

Baca Juga : “Bantahan Tyas Mirasih Diduga Menculik Anak Bernama Amadine Cattleya”

Pemerintah juga telah melakukan langkah hukum baik banding maupun kasasi. Bahkan pada periode ini, pemerintah juga mengajukan peninjauan kembali (PK), langkah hukum yang belum pernah dilakukan sebelumnya. Seluruh upaya tersebut berhasil menunda pelaksanaan hukuman mati sampai hari kemarin (18/03/18). “Seluruh upaya pemerintah terkendala sistem hukum di Saudi yang dalam kasus Misrin ini tergantung dari keputusan ahli waris apakah bersedia memaafkan terpidana atau tidak. Memang seperti itu aturan hukum di sana. Raja Saudi tidak bisa mengampuni, karena ahli waris tidak memberikan maaf pada Misrin. Ini mau tidak mau harus kita hormati. Kita juga menghadapi kendala dari sikap aparat penegak hukum kerajaan Saudi pada waktu lalu yang cenderung kurang terbuka dalam masalah-masalah seperti ini,” terang Hanif.

Semoga saja dengan kejadian ini, pemerintah Indonesia lebih memperhatikan hak-hak  TKI kita yang berkerja di luar negeri agar bisa mendapatkan perlindungan hukum. Agar tidak terjadi lagi kasus TKI asal Indonesia dipancung / dihukum mati di negara orang. Apalagi kasus ini dinilai tidak fair dalam proses persidangan pemutusan vonis.