Guru Tampar 9 Murid Di Purwokerto Menjadi Tersangka Kekerasan

Guru Tampar 9 Murid Di Purwokerto Menjadi Tersangka Kekerasan

Seorang guru tidak tetap di SMK kesatrian, Purwokerto, Banyumas, Jawa Tengah, telah membuat kasus kekerasan terhadap anak, Jumat ( 20-04-2018 ).

Aksi yang diduga dilakukan secara sengaja dengan oknum guru ini terekam jelas dalam sebuah video dan menjadi viral di media sosial ketika diunggah pertama kalinya saat hari Kamis ( 19-04-2018 ).

Video yang berdurasi 15 detik ini merekam sebuah adegan seorang guru yang mengelus pipi muridnya dengan tangan kiri di depan ruang kelas.

Seperti mencurahkan kasih sayang, sang guru kepada muridnya ternyata sedang mempersiapkan ancang-ancang untuk menampar ke pipi anak murid tersebut.

Tamparan yang dilayangkan oleh lukman tampak begitu menyakitkan sampai mengakibatkan tubuh murid terpental ke belakang.

Dari laporan Kapolres Banyumas Ajun Komisaris Besar Bambang Yudhantara salamun mengatakan, sedikitnya ada sembilan siswa yang menjadi korban dari kekerasan tersebut oleh tersangka.

Dari hasil yang dilakukan oleh tersangka tersebut,beberapa korban mengalami nyeri  telinga berdengung, rahang, lecet, hingga memar.

“Dan ada dua korban sampai dibawa ke rumah sakit, lalu sekarang rawat jalan” katanya.

Dalam keterangan tersebut, Bambang menyebut, alasan tersangka karena melakukan tindakan tersebut dikarenakan para korban terlambat masuk ke ruang kelas saat jamnya mengajar.

Maksud tindakan yang diambil akan memberikan efek jera terhadap korban, dan sebagai peringatan untuk siswa yang lain.

Hingga gelar perkara dilakukan, polisi telah memeriksa 13 saksi termasuk di antaranya para korban dan tersangka, selain itu, pihak juga telah mengamankan satu smartphone milik siswa yang diduga sebagai perekam video.

Sementara. Bambang akan menjerat tersangka dengan Pasal 80 Ayat 1 UU No. 35 Tahun 2014 tentang perubahan atas UU No. 23 Tahun 2002 tentang perlindungan anak dengan ancaman hukuman tiga tahun enam bulan penjara.

“Kami masih melakukan pengembangan dan analisa terkait adanya pasal berlapis yang dilanggar”.

Tindakan represif yang dilakukan oleh oknum guru tidak tetap di SMK Kesatrian Purwokerto, Lukman Septiadi kepada 9 siswanya menjadi noktah hitam dalam catatan perjalanan dunia pendidikan.

Tersangkapun mengaku melakukan aksi penamparan dengan pikiran sadar. Bahkan baru-baru ini didapat fakta jika sang guru senidiri ini yang justru memerintahkan siswanya untuk merekam setiap agen dalam video berdurasi 15 detik itu.

“Ini kejadian pertama, awalnya tersangka kukuh dengan prinsip, tapi akhirnya mengakui kesalahan dan menyesal”.

Terkait untuk videonya yang kedua, dimana para korban mengaku ikhlas dan menerima apa yang guru itu lakukan.

Pendamping korban dari pusat pelayanan terpadu penanganan dan perlindungan korban kekerasan berbasis Gender dan Anak. Banyumas , Tri Wuryaningsih mengatakan, banyak pendekatan yang seharusnya dapat di tempuh oleh guru selain kontak fisik.

“Para korban dinilai telah nakal dan bandel, tapi hal ini tidak bisa menjadi alasan bagi guru untuk melakukan kekerasan. Harusnya guru melakukan pendekatan persuasif. Saya yakin jika siswa nakal ini disntuh hatinya pasti akan luluh dengan sendirinya tanpa menggunakan kekerasan.

Sepanjang pengamatan Tri. Aksi penamparanyang dilakukan lukman kepada sembilan murid ini merupakan buah dari pengalaman masa kecil sang guru.

“Cara itu didapat oleh tersangka atas dasar pengalaman masa lalu. Ini adalah bukti betapa pengalaman akan kekerasan itu berbekas dan jelas menimbulkan efek”, ungkapnya.

saat ini yang paling dikhawatirkan adalah kondisi psikis para korban. Melihat dari kasus yang selama ini ditangani, besar potensi para korban kekerasan di usia muda ini justru kelak menjadi pelaku kekerasan saat dewasa nanti.

Jangan sampai trauma yang dialami sang murid diperparah dengan intimidasi yang mungkin datang dari teman atau bahkan guru lain di sekolah.